Rabu, 27 April 2011

Metode Bercerita


Menurut Depdikbud (1988:7) disebutkan bahwa macam-macam bercerita, terdiri atas:
             Bercerita dengan peraga adalah kegiatan bercerita dengan mempergunakan alat peraga dalam maksud untuk memberikan kepada anak suatu tanggapan yang tepat mengenai hal-hal yang didengar dalam cerita alat-alat peraga yang digunakan ialah alat peraga langsung dan alat peraga tak langsung.
Adapun uraian dari bercerita dengan alat peraga langsung dan alat peraga tak langsung dapat penulis jelaskan sebagai berikut.
(1)   Alat peraga langsung adalah alat peraga yang dipergunakan untuk bercerita dengan menggunakan benda-benda yang sebenar-benarnya.
(2)   Alat peraga tak langsung adalah alat peraga yang dipergunakan untuk bercerita dengan menggunakan benda-benda tiruan antara buku cerita adalah gambar-gambar yang dipergunakan sebagai alat peraga dalam bentuk buku yang melukiskan jalannya cerita, gambar seri adalah alat peraga serta dalam bentuk liputan yang melukiskan jalannya cerita. Bercerita dengan papan planel adalah alat peraga yang dipergunakan dengan papan planel dan guntingan gambar-gambar yang melukiskan hal-hal yang ada dalam cerita yang disajikan.

Manfaat Metode Bercerita
Dengan berbicara sebagai salah satu metode mengajar di sekolah dasar, maka ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh adalah:
(a)     Kegiatan bercerita memberikan sejumlah pengetahuan sosial nilai-nilai moral keagamaan.
(b)    Kegiatan bercerita memberikan pengalaman belajar untuk melatih pendengaran.
(c)     Memberikan pengalaman belajar dengan menggunakan metode bercerita memungkinkan anak mengembangkan kemampuan kognitif, efektif, dan psikomator.
(d)    Memberikan pengalaman belajar yang unik dan menarik, serta dapat mengatakan perasaan, membangkitkan semangat dan menimbulkan keasyikan tersendiri.

  Kebaikan Metode Bercerita
Kebaikan metode bercerita antara lain:
(a)   Dapat memberikan kepuasan terhadap anak didik apabila cerita yang disampaikan oleh guru menarik, sehingga merupakan pengalaman yang sangat berkesan yang tak mudah dilupakan.
(b)   Dapat mengetahui anak dalam menangkap cerita, memperbaiki bahasa dan gaya bahasanya.
(c)   Melatih keberanian anak untuk mengungkapkan pendapatnya dan menumbuhkan sikap keberanian untuk tampil di depan teman-temannya.
  Kelemahan Metode Bercerita
Kelemahan metode bercerita antara lain:
(a)     Bila guru tidak dapat mengekspresikan cerita melalui motivasi, mimik, suara, yang menarik akan menimbulkan kebosanan terhadap anak didik.
(b)    Cerita yang disampaikan terlalu lama dan tidak sesuai dengan kebutuhan anak, akan membuat suasana menjadi ramai.

    Pemecahan Kelemahan
Pemecahan kelemahan metode bercerita yaitu:
(a)    Guru supaya mengikuti pelatihan tentang cerita serta menambah wawasan melalui media baca maupun elektronik.
(b)   Agar tidak membosankan, maka cerita tidak perlu panjang lebar tapi pada sasaran isi cerita.

   Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Melaksanakan Bercerita
(a)    Cerita harus menarik dan memikat perhatian guru itu sendiri, kalau cerita itu menarik dan memikat pelatihan, maka guru akan bersungguh-sungguh dalam menceritakan kepada anak.
(b)   Cerita itu harus sesuai dengan kepribadian anak, gaya dan bakat anak supaya memiliki daya pikir terhadap perhatian anak dan keterlibatan aktif dalam kegiatan bercerita.
(c)    Cerita ini harus sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan mencerna isi cerita anak usia sekolah dasar. Cerita itu harus cukup pendek, dalam rentangan jangkauan waktu perhatian anak.

Metode Bercerita
Metode bercerita sama dengan metode penyajian lisan atau berbicara. Keraf (1980:81) membagi metode bercerita atau berbicara terdiri dari:
(a) Metode impromptu
(b) Metode menghafal
(c) Metode naskah
(d) Metode ekstemporer (tanpa persiapan naskah)
Metode impromptu (serta-merta) adalah metode penyajian berdasarkan kebutuhan sesaat tidak ada persiapan sama sekali serta-merta berbicara berdasarkan pengetahuannya dan kemahirannya. Pengetahuannya yang ada dikaitkan dengan situasi dan kepentingan saat itu akan sangat menolong pembicara.Metode menghafal merupakan lawan dari metode pertama dari atas penyajian lisan yang dibawakan dengan metode ini bukan saja direncanakan, tetapi ditulis secara lengkap kemudian dihafal kata demi kata. Cara ini juga akan menyulitkan pembicara untuk menyesuaikan dirinya dengan situasi dan reaksi-reaksi pendengar saling menyajikan gagasannya. Metode naskah, metode ini jarang dipakai kecuali dalam pidato-pidato resmi sifatnya agak kaku sebab bila tidak mengadakan latihan yang cukup, maka pembicara seolah-olah menimbulkan suatu tirai antara dia dengan pendengar. Kekurangan metode ini dapat diperkecil dengan latihan-latihan yang intensif.Metode ekstemporan (tanpa persiapan naskah). Metode ini sangat dianjurkan karena merupakan jalan tengah uraian yang akan dibawakan dengan metode ini direncanakan dengan cermat dan dibuat catatan-catatan yang penting yang sekaligus urutan bagi uraian itu.

  Struktur Bercerita atau Syarat-syarat Kerangka yang Baik
Secara inklusif dalam bagian tentang penyusunan, pola susunan dan macam-macam kerangka karangan telah diuraikan beberapa segi atau persyaratan untuk menyusun sebuah kerangka karangan yang baik. Adapun untuk mendapat suatu gambaran secara khusus dan jelas tentang persyaratan itu baik hal itu dikemukakan sekali lagi.Tesis atau pengungkapan maksud harus jelas. Tesis atau pengungkapan maksud tema dari karangan yang akan digarap, sebab itu rumusan tesis atau pengungkapan maksud harus dirumuskan dengan jelas dalam struktur kalimat yang baik, jelas menampilkan topik mana yang dijadikan landasan teori.
Tiap unit dalam kerangka hanya mengandung satu gagasan karena tiap unit dalam rangka karangan, baik unit atasan maupun unit bawahan, tidak boleh mengandung lebih dari satu gagasan pokok, maka akibatnya tidak boleh ada unit yang dirumuskan dalam dua kalimat, atau dalam kalimat majemuk setara, atau kalimat majemuk bertingkat, atau dalam frase koordinat. Bila ada dua atau tiga pokok dimasukkan bersama-sama dalam satu timbul yang sama, maka hubungan strukturnya tidak akan tampak jelas. Bila terjadi hal yang demikian maka unit itu harus segera direfisi.Pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis. Persoalan-persoalan atau topik-topik yang dicatat di bawah judul-judul atasan, harus bersungguh-sungguh bersifat bawahan dan tidak boleh satu atau lebih tinggi dari judul atasannya. Dan lebih lagi tidak boleh ada sebuah pokok bawahan yang ditempatkan di bawah sebuah pokok atasan tetapi sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan pokok atasan itu. Tiap pokok bawahan harus secara langsung dan logis menunjang atau memperkuat pokok atasannya.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Poskan Komentar